Long Journey for SP (2)

Category : Info

Hurray…surat lolos butuh dari Dinkes Bandung selesai juga dan udah saya terima di kantor, saatnya untuk proses berikutnya yaitu ke Dinkes DKI Jakarta untuk minta surat rekomendasi ke Depkes sebagai pelengkap permohonan untuk mendapatkan SP Apoteker.

Tanggal 6 September saya berangkat ke kantor Dinkes DKI Jakarta di jalan Kesehatan. Sengaja berangkat pagi, dan jam 8 lewat 15 menit saya sudah sampai. Melihat sudah ada tamu yang datang, ada pegawai yang langsung lihat jam tangannya untuk cek jam kali yaa… dan mungkin dalam hati ngomong ‘pagi amat udah nyampe di sini’ hihi… yah dari pada dateng siang dan ternyata officernya udah gak di tempat karena punya urusan lain, mending saya dateng pagi dan cepet selesai keperluannya.

Tujuan ke Dinkes DKI Jakarta ini adalah untuk meminta surat rekomendasi yang ditujukan ke Kepala Biro Kepegawaian Kementrian Kesehatan RI untuk mendapatkan SP, dan surat permohonan saya ini saya lengkapi dengan : Continue Reading

Long Journey for SP (1)

Category : Info

Setelah pindah ke bagian produksi perbekalan kesehatan rumah tangga dengan brand name H*K*, ada tugas baru yang harus saya emban, nama saya akan didaftarkan sebagai apoteker penanggung jawab produk alak kesehatan, karena akan ada lini produk baru yaitu sikat gigi bayi dengan brand name yang sama.

Sikat gigi bayi ini gak masuk kategori perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) tapi alat kesehatan (Alkes) dan saya gak bahas kenapa dan mengapanya yaaa…karena yang mau saya tulis lebih ke perjalanan tata cara pengurusan SP Apotekernya.

Dari lulus dulu sampai saat ini saya belum pernah ngurus masa bakti apoteker (MBA) dan juga surat penugasan (SP), gak seperti apoteker-apoteker yang lain (termasuk temen-temen deket saya sendiri) yang begitu lulus langsung pada nyari apotik biar namanya bisa dipakai sebagai penanggung jawab dan segera selesai MBA dan punya SIK, baru sekarang ini lah saya urus MBA buat mendapat SP. Terlihat gak serius jadi apotekernya yaaa…. Continue Reading

Obat Generik (II)

Category : Info

Bagaimana nasib obat generik? Disaat harga bahan baku yang melonjak tinggi, insentif untuk industri farmasi yang memproduksi obat generik juga ditiadakan, apakah obat generik akan tetap bisa diproduksi untuk mengkover kebutuhan masyarakat kebanyakan? Ataukah biaya kesehatan harus tetap mahal seperti sekarang ini?

Masyarakat pada umumnya sudah mengalami pembentukan persepsi obat branded sebagai obat paten, dan rela membayar mahal mendekati harga produk paten demi sebuah tagline iklan yang konsumen sendiri pun tidak tahu kebenarannya. Pemerintah ingin memasyarakatkan produk obat generik, tapi apalah daya masyarakat kebanyakan karena obat bukanlah produk pilihan bebas, hampir seluruhnya dipilihkan oleh dokter setelah melakukan konsultasi kesehatan melalui secarik resep dengan tulisan tangan yang nyaris tidak terbaca kecuali oleh petugas apotek yang kebanyakan juga bukan apoteker tapi paling tidak asisten apoteker (pertanyaan : kemana apotekernya?)

Kalaupun ada anggota masyarakat yang sudah paham untuk memilih produk generik, apakah dokter akan setuju saja untuk menulis nama obat generik dalam resepnya? Belum tentu juga. Atau, dokter setuju untuk menuliskan nama obat generik, saat di apotek petugas apotek malah bingung karena mereka tidak memiliki stok obat generik. Aduhai…

Pengalaman umum di masyarakat, dokter tidak mau menuliskan obat generik di resep yang ditulisnya karena tidak yakin akan khasiatnya dibanding obat branded/bermerek (mereka menyebutnya : paten). Masukan bagi para dokter, obat generik tidak kalah mutunya dibanding obat branded, komposisi keduanya sama kok, dan saat riset dan pengembangannya harus langsung dibandingkan dengan produk patennya.

Jika, masyarakat semuanya sudah sadar akan pilihan bebasnya untuk memilih memakai obat generik, tapi produk generik hilang dari pasaran karena industri yang membuatnya tidak mampu bersaing, jadi kontra produktif dong, ada promosi untuk sosialisasi produk generik dan sukses tapi tidak diimbangi dengan perlindungan usaha bagi industri, ya sama aja boong. Industri farmasi bukanlan organisasi non profit, tapi tetap lah membutuhkan profit untuk biaya operasional salah satunya gaji karyawan yang ujung-ujungnya merupakan konsumen kesehatan juga.

Obat Generik (I)

Category : Info

Stigma obat generik selama ini : murah dan gak berkhasiat. Bener gak sih stigma itu? Adil gak sih obat generik dikasih stigma kayak gitu?

Pabrik Farmasi yang membuat produk obat branded dan produk obat generik memakai komposisi formula sama plek gak ada bedanya untuk produk branded dan generik. Mungkin saja jika tablet akan memakai cetakan dengan grafir yang berbeda atau jika pakai kapsul akan memakai cangkang kapsul yang berbeda warnanya untuk membedakan kedua varian tersebut, bahkan ada kalanya bentuk tablet dan warna kapsul tidak saling dibedakan tapi yang berbeda adalah kemasannya baik itu strip-nya atau dus-nya.

Jadi masih mau bayar lebih mahal untuk obat branded sedangkan esensi produknya sama?

Mengapa produk branded punya harga lebih mahal?

  • Pemasaran produk branded (bermerek) kesuksesannya didukung oleh iklan yang gencar
  • Kemasan produk branded didesain lebih menarik dibanding produk generik yang kemasannya sudah diatur oleh BPOM
  • Ada subsidi dari pemerintah untuk pembuatan produk generik

Produk generik tidak melalui pemeriksaan mutu seperti produk branded, bahkan mungkin gak diperiksa. Wah itu salah besar. BPOM tidak menerbitkan standar ganda untuk produk obat, standarnya cuman satu, bisa dilihat di Farmakope, dan tiap produk obat yang diproduksi harus melewati semua tahap yang dipersyaratkan oleh BPOM.

Jadi, masih mau bayar lebih mahal demi sebuah merek / brand ?