Posted by sibunda | Posted on 25-02-2010
Category : Info
Tags: info obat
Bagaimana nasib obat generik? Disaat harga bahan baku yang melonjak tinggi, insentif untuk industri farmasi yang memproduksi obat generik juga ditiadakan, apakah obat generik akan tetap bisa diproduksi untuk mengkover kebutuhan masyarakat kebanyakan? Ataukah biaya kesehatan harus tetap mahal seperti sekarang ini?
Masyarakat pada umumnya sudah mengalami pembentukan persepsi obat branded sebagai obat paten, dan rela membayar mahal mendekati harga produk paten demi sebuah tagline iklan yang konsumen sendiri pun tidak tahu kebenarannya. Pemerintah ingin memasyarakatkan produk obat generik, tapi apalah daya masyarakat kebanyakan karena obat bukanlah produk pilihan bebas, hampir seluruhnya dipilihkan oleh dokter setelah melakukan konsultasi kesehatan melalui secarik resep dengan tulisan tangan yang nyaris tidak terbaca kecuali oleh petugas apotek yang kebanyakan juga bukan apoteker tapi paling tidak asisten apoteker (pertanyaan : kemana apotekernya?)
Kalaupun ada anggota masyarakat yang sudah paham untuk memilih produk generik, apakah dokter akan setuju saja untuk menulis nama obat generik dalam resepnya? Belum tentu juga. Atau, dokter setuju untuk menuliskan nama obat generik, saat di apotek petugas apotek malah bingung karena mereka tidak memiliki stok obat generik. Aduhai…
Pengalaman umum di masyarakat, dokter tidak mau menuliskan obat generik di resep yang ditulisnya karena tidak yakin akan khasiatnya dibanding obat branded/bermerek (mereka menyebutnya : paten). Masukan bagi para dokter, obat generik tidak kalah mutunya dibanding obat branded, komposisi keduanya sama kok, dan saat riset dan pengembangannya harus langsung dibandingkan dengan produk patennya.
Jika, masyarakat semuanya sudah sadar akan pilihan bebasnya untuk memilih memakai obat generik, tapi produk generik hilang dari pasaran karena industri yang membuatnya tidak mampu bersaing, jadi kontra produktif dong, ada promosi untuk sosialisasi produk generik dan sukses tapi tidak diimbangi dengan perlindungan usaha bagi industri, ya sama aja boong. Industri farmasi bukanlan organisasi non profit, tapi tetap lah membutuhkan profit untuk biaya operasional salah satunya gaji karyawan yang ujung-ujungnya merupakan konsumen kesehatan juga.