Jadi perempuan itu enak banget. Percaya kan? Perempuan tidak ada kewajiban mencari nafkah keluar rumah, kebutuhan hidup perempuan dipenuhi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, dan suaminya menurut tuntunan agama saya. Saat seorang perempuan mencari nafkah dan nafkah itu dipakai untuk kebutuhan keluarga atau untuk menambah uang belanja keluarga, maka perempuan mendapat pahala sedekah. Asyik ya… Saat perempuan menjadi seorang ibu, tugasnya sebagai ibu yang mendidik anak dan mengelola rumah tangga sebaiknya tidak dipusingkan lagi dengan urusan biaya keluarga.
Kondisi ideal seperti di atas memang sangat menyenangkan dan bisa melenakan. Tapi… tidak semua perempuan menjalani hidup seperti kondisi ideal tersebut. Banyak kaum perempuan yang justru menjadi pilar utama pendapatan keluarga tanpa bisa menghindar karena paksaan kondisi kehidupan. Banyak juga perempuan yang juga mencari nafkah untuk menutup kebutuhan hidup yang makin tinggi, yang makin tidak terkejar oleh peningkatan penghasilan, termasuk biaya kebutuhan primer dan pendidikan. Kelompok ini termasuk yang mempunyai keranjang kedua bagi keluarganya.
Apapun kategori kita saat ini, ada baiknya untuk memiliki keranjang kedua atau sumber pemasukan cadangan. Mengapa? Kita semua tidak tau peristiwa yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. Suami yang saat ini dapat memenuhi kebutuhan hidup lebih dari cukup tanpa perlu kontribusi kita lagi bisa saja tiba-tiba dihadapkan pada kondisi terburuk seperti kehilangan pekerjaan atau bahkan meninggalkan keluarga lebih dahulu. Pada saat tidak ada keranjang kedua sebagai cadangan atau alternatif penghasilan, ditambah lagi jika selama dinafkahi tidak pernah nabung dan gak punya simpanan, apa yang harus dilakukan menghadapi situasi tiba-tiba seperti itu?
Jadi sis, walo saat ini punya suami yang berkecukupan, sebaiknya jangan cuma bisa ngabisin uang suami aja. Sebaiknya berpikir jangka panjang, untuk jaga-jaga kalo ada peristiwa buruk yang terjadi atau jika memang dianugerahi umur yang panjang, bisa dipakai untuk bulan madu di hari tua.
Pengalaman saya sendiri, ada satu waktu hampir setahun saya tidak punya penghasilan sendiri karena kondisi keluarga. Dalam kurun waktu tersebut, ternyata kami dicoba oleh yang Maha Kuasa, suami sakit berkepanjangan dan akhirnya diketahui ada tumor ganas di kolon (kanker kolon) dan harus dioperasi segera dan dilanjutkan dengan kemoterapi selama hampir setengah tahun. Walaupun biaya pengobatan di rumah sakit ditanggung oleh perusahaan tempat suami bekerja, tapi biaya operasional tidaklah murah untuk merawat pasien kemoterapi. Pada saat itu saya sering diam-diam menangis, seandainya saya masih bekerja dan punya penghasilan tentunya biaya operasional ini tidaklah dirasa terlalu berat, tapi di lain pihak saat saya bekerja siapa yang harus mendampingi suami? Akhirnya, pikiran positif menang bahwa memang saya harus mendampingi suami dan saat suami sudah menyelesaikan rangkaian pengobatannya saya kembali bekerja dan setelah itu saya sering menganjurkan teman-teman dan kenalan saya untuk memiliki penghasilan sendiri, berdasar pengalaman dan pergolakan batin yang saya alami.
Saya termasuk yang beruntung, dengan latar belakang pendidikan yang saya miliki saya dapat kembali bekerja setelah vakum hampir satu tahun, tentunya lebih banyak yang kondisinya tidak seperti saya, bekerja tidak menggunakan skill khusus, sehingga persaingan lebih ketat. Peluang untuk mempunyai penghasilan tidaklah melulu dengan bekerja sebagai karyawan yang terima gaji bulanan, namun dapat juga dengan menjalankan bisnis pribadi, seperti berdagang misalnya. Dan untuk mendapatkan penghasilan tidak harus identik dengan keluar meninggalkan rumah dan keluarga (salah satu alasan yang menghalangi perempuan untuk berusaha mencari penghasilan tambahan).
Saat ini terdapat banyak sekali tawaran-tawaran bisnis yang dapat dilakukan dari rumah, seperti misalnya tawaran bisnis online. Dengan berbisnis secara online, kegiatan bisnis bisa dilakukan dari rumah sambil tetap mengasuh anak, misalnya. Jadi buat para istri yang dilarang bekerja karena harus menjaga anak dan rumah, bisnis seperti ini cocok. Seperti tawaran bisnis online dari dBC Network.
Dari tulisan ini, saya pengen mengajak sesama kaum perempuan untuk mempersiapkan keranjang kedua, karena lebih banyak positifnya kok, keluarga menjadi lebih aman, penghargaan pada suami juga akan meningkat karena kita tau sulitnya cari uang, sebagai perempuan juga akan lebih mandiri, apa gak malu tiap kali pengen sesuatu menengadahkan tangan ke suami (ada baju bagus, mas… minta uang; naksir sepatu bagus, mas… minta uang; pengen ngupi-ngupi, minta uang dulu), meskipun itu hak kita dan kewajiban suami. Gak ah… haree gini cuman bisa minta. O iya satu lagi, kalo kita mandiri, kita punya posisi tawar lebih kuat dan bisa mencegah KDRT.
Baca yang ini juga :






