Susah Jadi Apoteker

2

Category : Sharing

Sekolah-nya susah, biaya nya mahal, cari kerja susah, udah dapet kerja regulasinya banyak banget dan susah juga, apalagi kalo ditambah ketemu teman kerja yang susah diajak komunikasi apalagi kerja sama.

Saat ini, dalam rangka ‘membaktikan ilmu pengetahuan dengan berkarya bagi masyarakat’ -halah susah ya bahasanya- dan tentu saja demi memenuhi harkat hidup, minimal pemenuhan kebutuhan primer (kebutuhan untuk dihargai harus aku coret pake spidol gede dan tebel karena gak akan aku dapet di sini), aku ketemu sama sesama apoteker yang ‘ndablek’ banget, yang senengnya pake teori yang sudah lampau dan susaaaaah banget diajak untuk berpikir tentang kondisi saat ini apalagi memposisikan diri di 5 atau 10 tahun yang akan datang, dan maunya ngamanin diri sendiri.

Gak usah lah kita sebagai apoteker atau profesi-profesi lain yang kelihatannya dan kedengarannya mentereng, sebagai manusia kita tentunya berusaha untuk melakukan satu hal di hari ini mempunyai dampak bagus untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan dan berusaha tidak mewariskan sesuatu yang buruk atau busuk.

Kembali ke dunia per-apoteker-an, dari jaman sekolah sampai udah membaktikan diri pada bangsa, negara dan masyarkat, gak lepas sama yang namanya regulasi, acuan dan standar mulai dari Farmakope, UU, PP sampai panduan GMP dan CPOB. Yang namanya regulasi, semuanya sifatnya dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan trend yang sedang berlaku. Satu regulasi dan acuan yang digadang-gadangkan 3 tahun yang lalu sebagai ‘current’ atau yang terkini belum tentu relevan sampai dengan hari ini. Jadi harus berbesar hati jika hari ini dinilai tidak memenuhi requirement saat ini, walaupun berdasar requirement edisi sebelumnya sudah dapet nilai A+++ (hiperbola, pengen nunjukin kalo ‘baguuuus banget’ gitu).

Memang begitulah tuntutannya, apalagi buat apoteker yang kerja di industri farmasi, gak boleh selalu menoleh tapi dituntut untuk punya visi beberapa tahun ke depan dan siap siaga dengan perubahan yang bisa jadi makin ketat, makin rumit, makin mahal dan makin bikin pusing.

Salah satu kerjaan seru apoteker di industri farmasi adalah saat berinvestasi untuk fasilitas atau peralatan baru. Seru perencanannya, pengen seperti apa. Seru review regulasinya, harus seperti apa biar rancangan yang disusun sesuai sama standar minimum dan juga bisa manjamin tetep memenuhi syarat sampai beberapa tahun ke depan. Seru mikirin anggarannya, harus smart, dapet barang bagus tapi jangan terlalu mahal. Seru negosiasinya, baik sama pemilik modal ataupun sama sesama anggota tim investasi. Seru ketemu sama berbagai pemasok, yang semua isi presentasinya sama bahwa barang yang mereka bawa memenuhi standar GMP, tapi tentunya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Seru banget deh.

Keseruan itu masih ditambah lagi dengan serunya kualifikasi, validasi sama training dan sosialisasi, dan semua itu gak akan bisa dikerjain sendirian, dijamin mumet, butuh kerja sama dan banyak diskusi. Nah… kerja sama dan diskusi enaknya sama yang frekuensinya sama atau yang beda? Kalo kayak radio, frekuensi FM bakal gak bisa ketemu sama frekuensi AM kaaan…. Walaupun sama-sama apoteker, frekuensinya gak semuanya sama, kayak radio lagi, sama-sama stasiun radio, tapi yang satu AM satunya lagi FM.

Apoteker juga, ada yang pintar ada yang sok pintar, ada yang rajin baca buku ada yang sudah merasa cukup pintar. Tapi kalo inget tuntutan regulasi, apoteker sih harusnya selalu rajin belajar dan cari-cari up date-an pengetahuan, ditambah lagi apoteker gak boleh jadi tukang boong karena pas lulus ada sumpah profesi yang bawa-bawa nama Sang Pencipta, bisa kualat deh kalo ngelanggar, selamat di dunia blom tentu selamat di alam sana.

Pendek kata, apoteker adalah profesi yang dinamis, yang harus selalu siap belajar terus menerus dan harus selalu up dating informasi terbaru, apalagi yang kerja di industri farmasi, ditambah lagi harus selalu pake hati nurani dan gak melulu cari posisi aman tapi menyesatkan dan merugikan orang banyak.

Saat-saat menjelang diaudit oleh BPOM adalah saat ditantang mengenai pemahaman tentang requirement saat ini dan aplikasinya, karena tim auditor BPOM sekarang ini sudah menjalani serangkaian pelatihan yang mantap banget isinya dan durasinya, pakai silabus yang sama dengan yang dipakai oleh auditor badan regulasi negara lain (kiblat saat ini PICs), jadi jangan sampai malu-maluin dong kalau sampai gak bisa diskusi dengan auditor BPOM atau malu-maluin banget karena gak tau atau gak mau mencoba mengerti requirement saat ini dan kekeuh berpatokan sama aturan yang lama karena udah ‘nyaman’ banget. Pokoknya jangan sampai belum tahu kalau saat ini penanggung jawab yang kudu didaftarkan ke Dinkes adalah penanggung jawab Produksi dan QA bukan lagi Produksi dan QC, itu mah aturan jadul lah yaa…. Trus juga, karena kerja di industri farmasi ya pakailah regulasi untuk industri farmasi, jangan pakai regulasi rumah sakit, misalnya, udah gitu ngelihatnya sepotong lagi, yang jeleknya, jadi udah berbuat gak adil salah titik tolak pula….

Susah kan jadi apoteker, masih mau jadi apoteker? Kalau saya sih udah terlanjur jadi apoteker, jadi ya mau gak mau menjalani tuntutan profesi ini seperti yang saya jabarkan di atas, walaupun masih bolong-bolong, dan selalu berusaha untuk tidak ‘menggadaikan hati nurani’ dengan mengorbankan profesi untuk kondisi ‘nyaman’. Kalau mau yang agak gak susah, kerja di tempat yang gak perlu pake titel apoteker seperti bukan di industri farmasi atau ikut bisnis MLM (kalo ini dijamin having fun, look great, and make money) (2:34pm)

No related posts.

Comments (2)

iyap..setiap orang memang kudu punya jiwa visioner..
apoteker khusunya (karena saya sekolah di farmasi) kudu lebih kerja keras lagi untuk membuktikan bahwa kita ini benar2 tenaga kesehatan..PP 51 juga kudu dilaksanakan..apoteker tanggung jawab terhadap pasien juga…kan juga bnyak pasien yg sakit gara2 kesalahan pemberian obat

halo, selamat datang di dunia farmasi kalo begitu… sekali nyemplung gak bisa keluar lagi lho

Post a comment